PENDAHULUAN
Lumpur
sawit/solid ex-decanter merupakan limbah dari industri pengolahan kelapa sawit
yang ketersediaannya cukup berlimpah dan masih belum dimanfaatkan secara
optimal serta belum punya nilai ekonomis berbeda dengan limbah kelapa sawit
lainnya seperti bungkil inti sawit. Beberapa kajian menunjukan selain memiliki
potensi kuantitas, lumpur sawit juga mempunyai potensi kualitas nutrisi yang
cukup baik.
Pakan merupakan salah satu
komponen terbesar dalam struktur biaya produksi ternak yang dikelola secara
intensif, sehingga efisiensi penggunaan pakan akan berpengaruh langsung kepada
efisiensi usaha secara keseluruhan. Pemanfaatan sumber daya lokal merupakan
langkah strategis dalam upaya mencapai efisiensi usaha. Ada beberapa kriteria
yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan efisiensi bahan pakan tersebut,
yaitu:
·
Tersedia
secara kontinyu
·
Murah
dan mudah didapat
·
Mempunyai
nilai gizi yang cukup
·
Mudah
dicerna serta tidak mengganggu kesehatan ternak
Produk yang berpotensi sebagai bahan
pakan ternak alternatif yang tersedia dalam volume besar dan tersedia sepanjang
tahun umumnya terkait dengan sektor industri Agro yang menghasilkan berbagai
produk, baik yang sifatnya sampingan, sisa, maupun limbah.
Industri perkebunan kelapa
sawit yang menghasilkan minyak sawit sebagai produk utamanya, menawarkan produk
limbah dan hasil ikutan yang berpotensi diolah menjadi pakan ternak. Salah
satunya adalah lumpur sawit atau disebut solid ex-decanter.
Dilihat dari segi kualitas
nutrisi, lumpur sawit mempunyai kandungan gizi yang cukup baik. Batubara Te la, (1995) melaporkan kandungan
protein kasar sekitar 11-14% dan DE 3,0 Mcal/kg.
Para peneliti lain juga melaporkan
bahwa kandungan gizi yang terdapat dalam lumpur sawit adalah protein kasar
12,63-17,41%; serat kasar 9,98-25,79% serta lemak kasarnya adalah 7,12-15,15%.
Tingginya kadar serat kasar dalam limbah lumpur sawit ini sangat cocok untuk
pakan ternak sapi potong sebagai pakan alternatif.
Tujuan
Tujuan
disusunnya makalah ini adalah untuk mengetahui permasalahan-permasalahan yang terjadi
di peternakan sapi potong khususnya di daerah yang kesulitan mencari pakan
hijauan. Dan daerah peternakan yang terdapat sumber limbah pengolahan kelapa
sawit, sehingga didapatkan lumpur sawit untuk dijadikan pakan alternatif ternak
khususnya sapi potong.
PEMBAHASAN
A. Lumpur
Sawit (Solid)
Lumpur sawit merupakan
limbah hasil ikutan pengolahan minyak sawit yang ketersediaannya di Indonesia
sangat melimpah. Ketersediaannya yang sangat melimpah khususnya di daerah
Sumatera dan Kalimantan serta masih belum dimanfaatkan secara optimal ini.

Limbah sawit yang dihasilkan pabrik pengolahan sawit yang cukup besar
tersebut akan menjadi masalah besar yang dapat merupakan ancaman pencemaran
lingkungan, apabila tidak dikelola dengan baik. Disarnping itu, diperlukan juga
biaya yang tidak sedikit dalarn pengelolaan limbah ini. Oleh karena itu, perlu
diupayakan agar limbah tersebut tidak menjadi beban, tetapi sebaliknya dapat
memberi nilai tambah bagi usaha perkebunan atau usaha lainnya. Salah satu solusinya
adalah dengan menggunakan bahan‑bahan tersebut menjadi pakan ternak khususnya
sapi.
Indonesia merupakan salah
satu negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Total kelapa sawit yang
mampu disumbang Indonesia mencapai 48% yang diikuti oleh negara Malaysia
sebesar 37% dari total volume produksi minyak sawit dunia. Berdasarkan laporan 10
tahunan Compounded Annual
Growth Rate (CAGR), Pertumbuhan produksi minyak sawit di Indonesia
paling tinggi, yaitu sebesar 11% (Wicaksono, 2012). Lebih lanjut dijelaskan
bahwa Sumatera dan Kalimantan, merupakan dua pulau penghasil sawit terbesar di
Indonesia dengan total produksi yang mencapai lebih dari 96%. Sumatera
menyumbang sebanyak 78% dan Kalimantan menyumbang sebanyak 18% dari total
produksi minyak sawit Indonesia. Disamping itu, beberapa pulau di luar Sumatera
dan Kalimantan turut memberikan kontribusi dalam produksi minyak sawit
Indonesia. Sulawesi memproduksi sekitar 2-3% minyak sawit bagi Indonesia, dan
sisanya lagi berasal dari Papua dan Jawa. Di pulau Sumatera sendiri, hampir 40%
minyak sawit dihasilkan di Provinsi Riau.

Dari proses pengolahan
kelapa sawit ini diperoleh produk sampingan berupa pelepah sawit, janjang
kosong, lumpur sawit (solid) dan bungkil inti sawit. Kandungan gizi dalam
lumpur sawit cukup tinggi, beberapa peneliti juga menyimpulkan hasil
penelitiannya.
B. Hasil
penelitian beberapa peneliti tentang lumpur sawit
Menurut Fenita et al., 2010 :
·
Protein
kasar mencapai 13,57%;
·
Serat
kasarnya 28,03%;
·
Lemak
kasarnya mencapai 11,67%
Menurut Sinurat et al. (1999):
·
Protein
kasarnya adalah 11,94%;
·
Serat
kasarnya 62,8%
·
Energinya
mencapai 1,237 kkal/kg.
Sedangkan menurut Widjaja et al. (2006), yang
menyatakan bahwa kandungan gizi dalam lumpur sawit adalah:
·
Protein
kasarnya 12,63-17,41%;
·
Serat
kasarnya 9,98-25,79%;
·
Lemak
kasarnya 7,12-15,15% dan
·
Energi
brutonya mencapai 3,217-3,459 kkal/kg.
Pakan lumpur sawit, sebelum
digunakan harus melalui proses fermentasi dengan jenis katang Neurospora sp. Jenis katang ini
telah terbukti dapat menghasilkan kadar beta karoten yang penting untuk
perkembangan ternak.
C.
Potensi
Lumpur sawit sebagai Pakan Ternak
Beberapa produk sampingan dari industri pengolahan kelapa sawit yang masih
banyak belum dimanfaatkan adalah lumpur sawit. Salah satu cara mengatasi
permasalahan di atas adalah dengan menjadikannya sebagai bahan pakan ternak. Lumpur
sawit ini dapat diberikan pada beberapa ternak, diantaranya:
·
ternak
ruminansia (Hidayat et al., 2006; 2007; dan 2009; Akbarillah, 2007),
·
ayam ras
(Sinurat et al., 2001; dan 2001; Fenita et al., 2010),
·
ayam buras
(Sinurat et al., 1999)
·
serta pada
ternak itik (Sinurat et al., 2000).
Keberadaan limbah lumpur sawit di Indonesia sangat melimpah
dan berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan pakan ternak. Potensi ini didukung
dengan pendapat dari Bintang et
al. (2003) dan Sinurat et
al. (2007), yang mengatakan bahwa pemanfaatan limbah pertanian
untuk dijadikan sebagai bahan pakan alternatif harus memperhatikan beberapa hal
seperti kandungan gizinya, ketersediaannya yang melimpah, faktor-faktor
pembatas yang ada di dalam bahan serta tidak bersaing dengan kebutuhan manusia.
Diperkirakan produksi lumpur sawit di Indonesia akan terus mengalami
peningkatan untuk beberapa tahun kedepan, itu sejalan dengan kenaikan produksi
minyak sawit di Indonesia. Compounded
Annual Growth Rate (CAGR), mencatat bahwa selama 10 tahun terakhir,
pertumbuhan produksi minyak sawit di Indonesia paling tinggi, yaitu sebesar 11%
(Wicaksono, 2012).
Dari hasil analisis terhadap kandungan gizi lumpur sawit
sangat bervariasi, dimana hasil analisis yang dilakukan oleh:
·
Fenita
et al. (2010),
didapatkan hasil kandungan protein kasarnya 13,57%; serat kasarnya 28,03%;
lemak kasarnya 11,67% dan energi metabolismenya 1632 kal/g.
·
Widjaja
et al. (2006),
yang menyatakan bahwa kandungan gizi lumpur sawit adalah protein kasarnya 12,63-17,41%;
serat kasarnya 9,98-25,79%; lemak kasarnya 7,12-15,15% serta energi brutonya
3,217-3,454 kkal/kg.
Dari kedua analisis kandungan lumpur sawit di atas terdapat
hasil yang sangat bervariasi, hal ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan
tempat dimana sampel diperoleh serta teknik pengolahan lumpur sawit yang
berbeda.
Elisabeth dan Ginting (2004), membuat penelitian dengan memberikan pakan
pada ternak sapi berupa campuran dari
pelepah sawit, lumpur sawit, bungkil inti sawit, dedak, urea dan garam. Dari
hasil. penelitian ini disimpulkan bahwa formula yang terbaik adalah campuran
pakan yang terdiri dari pelepah sawit 60%, lumpur sawit 18%, bungkil inti sawit
18% dan dedak 4%. Dengan perlakuan tersebut, ternak sapi Bali yang digunakan
dapat mencapai rata‑rata pertambahan bobot badan 0,52 kg/e/h.
Penelitian
ini kemudian dilanjutkan dengan meningkatkan kualitas gizi limbah pabrik sawit
melalui proses fermentasi (Sinurat et al., 2005) sebelum diberikan pada
ternak.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Mathius et al (2005) yang
melaporkan bahwa beberapa formula ransum yang merupakan campuran dan pelepah
sawit, bungkil inti sawit, lumpur sawit dan produk fermentasi limbah sawit
(lumpur sawit dan bungkil inti sawit), disusun. dan diberikan pada ternak sapi.
Ransum kontrol, yang terdiri dari campuran jagung, dedak dan mineral, tanpa
limbah pabrik sawit juga dibuat.
Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa pakan yang terbaik adalah campuran dari pelepah
sawit, bungkil inti sawit dan produk fermentasi dengan perbandingan 1:1:1
(setara berat kering). Campuran pakan ini menghasilkan rata‑rata pertambahan
bobot badan 582 g/e/h. Sedangkan sapi yang diberi pakan yang terdiri dari limbah
pabrik sawit yang tidak difermentasi dan pakan kontrol masing‑masing hanya
menghasilkan pertambahan bobot badan 310 dan 354 g/e/h.
Tabel 1. Komposisi kimia lumpur sawit kering yang
dikutip dari berbagai pustaka
|
Komposisi
nutrien
|
Lumpur sawit (%)
|
Solid ex-decanter (%)
|
|
Bahan kering
|
90
|
90,3
|
|
Bahan organik
|
-
|
79,6
|
|
Lemak kasar
|
10,5
|
14,8
|
|
Serat kasar
|
11,5 –
32,9
|
20,1
|
|
ADF
|
44,29
|
44,3
|
|
NDF
|
62,77
|
43,9
|
|
BETN
|
-
|
40,9
|
|
Energi kasar (kekal/kg)
|
3,315 –
4,470
|
-
|
|
Energi tercerna (kekal/kg)
|
-
|
2,450
|
|
Energi metabolis (kekal/kg)
|
1,125 –
1,593
|
2,670
|
|
Protein kasar
|
9,6 –
15,52
|
12,2
|
|
Protein sejati
|
8,9 –
10,44
|
-
|
|
Abu
|
9,25
|
20,3
|
|
Kalsium
|
0,50 –
0,97
|
0,85
|
|
Fosfor
|
0,17 –
0,75
|
0,39
|
|
Asam
amino:
|
|
|
|
Threonin
|
0,33 –
0,78
|
-
|
|
Alanine
|
0,41 –
0,56
|
-
|
|
Sistin
|
0,12 –
0,13
|
-
|
|
Valine
|
0,36 –
0,48
|
-
|
|
Metionin
|
0,14 –
0,16
|
-
|
|
Isoleosin
|
0,35
|
-
|
|
Leusin
|
0,52 –
0,60
|
-
|
|
Fenilalanin
|
0,21
|
-
|
|
Lisin
|
0,21 –
0,31
|
-
|
|
Argini
|
0,19 –
0,21
|
-
|
Sumber: Sinurat, 2003; “Ginting dan Krisnan (2005)
Kesimpulan Dan Saran
Kesimpulan
Dari uraian
di atas dapat disimpulkan beberapa hal:
Peningkatan luas
kebun sawit yang diiringi dengan peningkatan jumlah produksi mengakibatkan
bertambahnya jumlah atau kapasitas industri pengolahan minyak sawit. Hal ini
juga akan menimbulkan masalah, karena limbah yang dihasilkan akan bertambah
pula, dan apabila tidak dikelola dan dimanfaatkan dengan baik akan menyebabkan
pencemaran lingkungan.
- Salah satu solusi dalam mengatasi pencemaran lingkungan yang disebabkan limbah pabrik sawit , dengan memanfaatkan limbah tersebut sebagai pakan ternak sapi.
- Pemanfaatan limbah sawit yang berupa lumpur sawit (solid) dan bungkil inti sawit telah diterapkan oleh beberapa peternak plasma Bengkulu Utara dan peternak di daerah Talang Benuang Kabupaten Seluma, dan hasilnya cukup baik terhadap pertumbuhan sapi potong maupun sapi perah.
Saran
Saran yang
ingin penulis sampaikan adalah:
Pemanfaatan
limbah lumpur sawit fermentasi sebagai bahan pakan ternak sapi potong merupakan
suatu metode yang efektif dalam menciptakan produk peternakan terutama daging.
Selain menghasilkan produk peternakan yang sehat, penggunaan lumpur sawit ini
juga dapat menekan biaya produksi.
DAFTAR PUSTAKA
Agustin, F. 1996. Pengaruh
penggunaan bungkil inti sawit (“palm kernel cake”) di dalam ransum domba
terhadap daya cerna protein dan retensi nitrogen. J. Peternakan dan Lingkungan
2 (1): 21‑24.
Anonymous. 2002. Asian livestock
October‑December 2002. hhtp://www.aphca.org/livestock/2002/Asian livestock V26
no4.
Aritonang, D. 1984. Pengaruh
penggunaan bungkil inti sawit dalam ransum babi yang sedang tumbuh. Disertasi.
Fakultas Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.
Chin, F.Y. 2002. Utilization of palm
kernel cake as feed in Malaysia.Asian Livestock 26 (4):19‑26. FAO Regional
Office, Bangkok.
Elisabeth, J. dan S.P. Ginting.
2004. Pemanfaatan hasil samping industri kelapa sawit sebagai bahan pakan
ternak sapi potong. In.: Sistem Integrasi Kelapa Sawit‑Sapi. Pros.
Lokakarya Nasional. Hal. 110‑119. Dept. Pertanian, Pemda Prov. Bengkulu dan
P.T. Agricinal. Bengkulu.
Hutagalung, R.I., M.D. Mahyuddin,
B.L. Braithwaite, P. Vijchulata and S. Dass. 1986. Digestibility and
performance of cattle fed palm kernel cake and ammoniated palm pressed fiber
under intensive system. Proc. 8h Ann. Conf. MSAP. pp. 87‑9 1. Universiti
Pertanian Malaysia, Selangor.
Mathius, I.W., D. Sitompul, B.P.
Manurung dan Azmi. 2004. Produk samping tanaman dan pengolahan buah kelapa
sawit sebagai bahan dasar pakan komplit untuk sapi: Suatu tinjauan. In.: Sistem
Integrasi Kelapa SawitSapi. Pros. Lokakarya Nasional. Hal. 120‑128. Dept.
Pertanian, Pemda Prov. Bengkulu dan P.T. Agricinal. Bengkulu.
Mustaffa‑Babjee, A., H. Hawari, and
M.R. Rosli. 1984. PaImbeef.‑ A value added product of palm kernel cake. Proc.
8th Ann. Conf, MSAP. pp. 92‑93. Universiti Pertanian Malaysia, Selangor.
Cara fermentasi solid sawit gimana? Kok gak dijelaskan
BalasHapusAji Slot Casino & Hotel - Jtm Hub
BalasHapusJTG is a 5-reel 광주광역 출장안마 and 5-row 경주 출장안마 live casino and 계룡 출장마사지 hotel located 세종특별자치 출장마사지 in Temecula, CA. Enjoy modern accommodations, delicious dining, 제주도 출장샵 shopping, relaxing spa,