Kamis, 23 April 2015

lumpur sawit




PENDAHULUAN


Lumpur sawit/solid ex-decanter merupakan limbah dari industri pengolahan kelapa sawit yang ketersediaannya cukup berlimpah dan masih belum dimanfaatkan secara optimal serta belum punya nilai ekonomis berbeda dengan limbah kelapa sawit lainnya seperti bungkil inti sawit. Beberapa kajian menunjukan selain memiliki potensi kuantitas, lumpur sawit juga mempunyai potensi kualitas nutrisi yang cukup baik.

Pakan merupakan salah satu komponen terbesar dalam struktur biaya produksi ternak yang dikelola secara intensif, sehingga efisiensi penggunaan pakan akan berpengaruh langsung kepada efisiensi usaha secara keseluruhan. Pemanfaatan sumber daya lokal merupakan langkah strategis dalam upaya mencapai efisiensi usaha. Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan efisiensi bahan pakan tersebut, yaitu:
·      Tersedia secara kontinyu
·      Murah dan mudah didapat
·      Mempunyai nilai gizi yang cukup
·      Mudah dicerna serta tidak mengganggu kesehatan ternak
Produk yang berpotensi sebagai bahan pakan ternak alternatif yang tersedia dalam volume besar dan tersedia sepanjang tahun umumnya terkait dengan sektor industri Agro yang menghasilkan berbagai produk, baik yang sifatnya sampingan, sisa, maupun limbah.
Industri perkebunan kelapa sawit yang menghasilkan minyak sawit sebagai produk utamanya, menawarkan produk limbah dan hasil ikutan yang berpotensi diolah menjadi pakan ternak. Salah satunya adalah lumpur sawit atau disebut solid ex-decanter.
Dilihat dari segi kualitas nutrisi, lumpur sawit mempunyai kandungan gizi yang cukup baik. Batubara Te la, (1995) melaporkan kandungan protein kasar sekitar 11-14% dan DE 3,0 Mcal/kg.
Para peneliti lain juga melaporkan bahwa kandungan gizi yang terdapat dalam lumpur sawit adalah protein kasar 12,63-17,41%; serat kasar 9,98-25,79% serta lemak kasarnya adalah 7,12-15,15%. Tingginya kadar serat kasar dalam limbah lumpur sawit ini sangat cocok untuk pakan ternak sapi potong sebagai pakan alternatif.

Tujuan

Tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk mengetahui permasalahan-permasalahan yang terjadi di peternakan sapi potong khususnya di daerah yang kesulitan mencari pakan hijauan. Dan daerah peternakan yang terdapat sumber limbah pengolahan kelapa sawit, sehingga didapatkan lumpur sawit untuk dijadikan pakan alternatif ternak khususnya sapi potong.





PEMBAHASAN

A.  Lumpur Sawit (Solid)
Lumpur sawit merupakan limbah hasil ikutan pengolahan minyak sawit yang ketersediaannya di Indonesia sangat melimpah. Ketersediaannya yang sangat melimpah khususnya di daerah Sumatera dan Kalimantan serta masih belum dimanfaatkan secara optimal ini.
 
Limbah sawit yang dihasilkan pabrik pengolahan sawit yang cukup besar tersebut akan menjadi masalah besar yang dapat merupakan ancaman pencemaran lingkungan, apabila tidak dikelola dengan baik. Disarnping itu, diperlukan juga biaya yang tidak sedikit dalarn pengelolaan limbah ini. Oleh karena itu, perlu diupayakan agar limbah tersebut tidak menjadi beban, tetapi sebaliknya dapat memberi nilai tambah bagi usaha perkebunan atau usaha lainnya. Salah satu solusinya adalah dengan menggunakan bahan‑bahan tersebut menjadi pakan ternak khususnya sapi.
Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Total kelapa sawit yang mampu disumbang Indonesia mencapai 48% yang diikuti oleh negara Malaysia sebesar 37% dari total volume produksi minyak sawit dunia. Berdasarkan laporan 10 tahunan Compounded Annual Growth Rate (CAGR), Pertumbuhan produksi minyak sawit di Indonesia paling tinggi, yaitu sebesar 11% (Wicaksono, 2012). Lebih lanjut dijelaskan bahwa Sumatera dan Kalimantan, merupakan dua pulau penghasil sawit terbesar di Indonesia dengan total produksi yang mencapai lebih dari 96%. Sumatera menyumbang sebanyak 78% dan Kalimantan menyumbang sebanyak 18% dari total produksi minyak sawit Indonesia. Disamping itu, beberapa pulau di luar Sumatera dan Kalimantan turut memberikan kontribusi dalam produksi minyak sawit Indonesia. Sulawesi memproduksi sekitar 2-3% minyak sawit bagi Indonesia, dan sisanya lagi berasal dari Papua dan Jawa. Di pulau Sumatera sendiri, hampir 40% minyak sawit dihasilkan di Provinsi Riau.
    
Dari proses pengolahan kelapa sawit ini diperoleh produk sampingan berupa pelepah sawit, janjang kosong, lumpur sawit (solid) dan bungkil inti sawit. Kandungan gizi dalam lumpur sawit cukup tinggi, beberapa peneliti juga menyimpulkan hasil penelitiannya.

B.  Hasil penelitian beberapa peneliti tentang lumpur sawit
Menurut Fenita et al., 2010 :
·      Protein kasar mencapai 13,57%;
·      Serat kasarnya 28,03%;  
·      Lemak kasarnya mencapai 11,67%
Menurut Sinurat et al. (1999):  
·         Protein kasarnya adalah 11,94%;
·         Serat kasarnya 62,8%  
·         Energinya mencapai 1,237 kkal/kg.
Sedangkan menurut Widjaja et al. (2006), yang menyatakan bahwa kandungan gizi dalam lumpur sawit adalah:
·         Protein kasarnya 12,63-17,41%;
·         Serat kasarnya 9,98-25,79%;
·         Lemak kasarnya 7,12-15,15% dan
·         Energi brutonya mencapai 3,217-3,459 kkal/kg.
Pakan lumpur sawit, sebelum digunakan harus melalui proses fermentasi dengan jenis katang Neurospora sp. Jenis katang ini telah terbukti dapat menghasilkan kadar beta karoten yang penting untuk perkembangan ternak.

C.  Potensi Lumpur sawit sebagai Pakan Ternak
Beberapa produk sampingan dari industri pengolahan kelapa sawit yang masih banyak belum dimanfaatkan adalah lumpur sawit. Salah satu cara mengatasi permasalahan di atas adalah dengan menjadikannya sebagai bahan pakan ternak. Lumpur sawit ini dapat diberikan pada beberapa ternak, diantaranya:
·         ternak ruminansia (Hidayat et al., 2006; 2007; dan 2009; Akbarillah, 2007),
·         ayam ras (Sinurat et al., 2001; dan 2001; Fenita et al., 2010),
·         ayam buras (Sinurat et al., 1999)
·         serta pada ternak itik (Sinurat et al., 2000).
Keberadaan limbah lumpur sawit di Indonesia sangat melimpah dan berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan pakan ternak. Potensi ini didukung dengan pendapat dari Bintang et al. (2003) dan Sinurat et al. (2007), yang mengatakan bahwa pemanfaatan limbah pertanian untuk dijadikan sebagai bahan pakan alternatif harus memperhatikan beberapa hal seperti kandungan gizinya, ketersediaannya yang melimpah, faktor-faktor pembatas yang ada di dalam bahan serta tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Diperkirakan produksi lumpur sawit di Indonesia akan terus mengalami peningkatan untuk beberapa tahun kedepan, itu sejalan dengan kenaikan produksi minyak sawit di Indonesia. Compounded Annual Growth Rate (CAGR), mencatat bahwa selama 10 tahun terakhir, pertumbuhan produksi minyak sawit di Indonesia paling tinggi, yaitu sebesar 11% (Wicaksono, 2012).
Dari hasil analisis terhadap kandungan gizi lumpur sawit sangat bervariasi, dimana hasil analisis yang dilakukan oleh:
·         Fenita et al. (2010), didapatkan hasil kandungan protein kasarnya 13,57%; serat kasarnya 28,03%; lemak kasarnya 11,67% dan energi metabolismenya 1632 kal/g.
·         Widjaja et al. (2006), yang menyatakan bahwa kandungan gizi lumpur sawit adalah protein kasarnya 12,63-17,41%; serat kasarnya 9,98-25,79%; lemak kasarnya 7,12-15,15% serta energi brutonya 3,217-3,454 kkal/kg.
Dari kedua analisis kandungan lumpur sawit di atas terdapat hasil yang sangat bervariasi, hal ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan tempat dimana sampel diperoleh serta teknik pengolahan lumpur sawit yang berbeda.
Elisabeth dan Ginting (2004), membuat penelitian dengan memberikan pakan pada ternak sapi berupa campuran dari pelepah sawit, lumpur sawit, bungkil inti sawit, dedak, urea dan garam. Dari hasil. penelitian ini disimpulkan bahwa formula yang terbaik adalah campuran pakan yang terdiri dari pelepah sawit 60%, lumpur sawit 18%, bungkil inti sawit 18% dan dedak 4%. Dengan perlakuan tersebut, ternak sapi Bali yang digunakan dapat mencapai rata‑rata pertambahan bobot badan 0,52 kg/e/h.
Penelitian ini kemudian dilanjutkan dengan meningkatkan kualitas gizi limbah pabrik sawit melalui proses fermentasi (Sinurat et al., 2005) sebelum diberikan pada ternak.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Mathius et al (2005) yang melaporkan bahwa beberapa formula ransum yang merupakan campuran dan pelepah sawit, bungkil inti sawit, lumpur sawit dan produk fermentasi limbah sawit (lumpur sawit dan bungkil inti sawit), disusun. dan diberikan pada ternak sapi. Ransum kontrol, yang terdiri dari campuran jagung, dedak dan mineral, tanpa limbah pabrik sawit juga dibuat.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pakan yang terbaik adalah campuran dari pelepah sawit, bungkil inti sawit dan produk fermentasi dengan perbandingan 1:1:1 (setara berat kering). Campuran pakan ini menghasilkan rata‑rata pertambahan bobot badan 582 g/e/h. Sedangkan sapi yang diberi pakan yang terdiri dari limbah pabrik sawit yang tidak difermentasi dan pakan kontrol masing‑masing hanya menghasilkan pertambahan bobot badan 310 dan 354 g/e/h. 
Tabel 1. Komposisi kimia lumpur sawit kering yang dikutip dari berbagai pustaka
Komposisi nutrien
Lumpur sawit (%)
Solid ex-decanter (%)
Bahan kering
90
90,3
Bahan organik
-
79,6
Lemak kasar
10,5
14,8
Serat kasar
11,5 – 32,9
20,1
ADF
44,29
44,3
NDF
62,77
43,9
BETN
-
40,9
Energi kasar (kekal/kg)
3,315 – 4,470
-
Energi tercerna (kekal/kg)
-
2,450
Energi metabolis (kekal/kg)
1,125 – 1,593
2,670
Protein kasar
9,6 – 15,52
12,2
Protein sejati
8,9 – 10,44
-
Abu
9,25
20,3
Kalsium
0,50 – 0,97
0,85
Fosfor
0,17 – 0,75
0,39
Asam amino:


Threonin
0,33 – 0,78
-
Alanine
0,41 – 0,56
-
Sistin
0,12 – 0,13
-
Valine
0,36 – 0,48
-
Metionin
0,14 – 0,16
-
Isoleosin
0,35
-
Leusin
0,52 – 0,60
-
Fenilalanin
0,21
-
Lisin
0,21 – 0,31
-
Argini
0,19 – 0,21
-
Sumber: Sinurat, 2003; “Ginting dan Krisnan (2005)

Kesimpulan Dan Saran
Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan beberapa hal:
Peningkatan luas kebun sawit yang diiringi dengan peningkatan jumlah produksi mengakibatkan bertambahnya jumlah atau kapasitas industri pengolahan minyak sawit. Hal ini juga akan menimbulkan masalah, karena limbah yang dihasilkan akan bertambah pula, dan apabila tidak dikelola dan dimanfaatkan dengan baik akan menyebabkan pencemaran lingkungan.
  1. Salah satu solusi dalam mengatasi pencemaran lingkungan yang disebabkan limbah pabrik sawit , dengan memanfaatkan limbah tersebut sebagai pakan ternak sapi.
  2. Pemanfaatan limbah sawit yang berupa lumpur sawit (solid) dan bungkil inti sawit telah diterapkan oleh beberapa peternak plasma Bengkulu Utara dan peternak di daerah Talang Benuang Kabupaten Seluma, dan hasilnya cukup baik terhadap pertumbuhan sapi potong maupun sapi perah.
Saran
Saran yang ingin penulis sampaikan adalah:
Pemanfaatan limbah lumpur sawit fermentasi sebagai bahan pakan ternak sapi potong merupakan suatu metode yang efektif dalam menciptakan produk peternakan terutama daging. Selain menghasilkan produk peternakan yang sehat, penggunaan lumpur sawit ini juga dapat menekan biaya produksi.









DAFTAR PUSTAKA
Agustin, F. 1996. Pengaruh penggunaan bungkil inti sawit (“palm kernel cake”) di dalam ransum domba terhadap daya cerna protein dan retensi nitrogen. J. Peternakan dan Lingkungan 2 (1): 21‑24.
Anonymous. 2002. Asian livestock October‑December 2002. hhtp://www.aphca.org/livestock/2002/Asian livestock V26 no4.
Aritonang, D. 1984. Pengaruh penggunaan bungkil inti sawit dalam ransum babi yang sedang tumbuh. Disertasi. Fakultas Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.
Chin, F.Y. 2002. Utilization of palm kernel cake as feed in Malaysia.Asian Livestock 26 (4):19‑26. FAO Regional Office, Bangkok.
Elisabeth, J. dan S.P. Ginting. 2004. Pemanfaatan hasil samping industri kelapa sawit sebagai bahan pakan ternak sapi potong. In.: Sistem Integrasi Kelapa Sawit‑Sapi. Pros. Lokakarya Nasional. Hal. 110‑119. Dept. Pertanian, Pemda Prov. Bengkulu dan P.T. Agricinal. Bengkulu.
Hutagalung, R.I., M.D. Mahyuddin, B.L. Braithwaite, P. Vijchulata and S. Dass. 1986. Digestibility and performance of cattle fed palm kernel cake and ammoniated palm pressed fiber under intensive system. Proc. 8h Ann. Conf. MSAP. pp. 87‑9 1. Universiti Pertanian Malaysia, Selangor.
Mathius, I.W., D. Sitompul, B.P. Manurung dan Azmi. 2004. Produk samping tanaman dan pengolahan buah kelapa sawit sebagai bahan dasar pakan komplit untuk sapi: Suatu tinjauan. In.: Sistem Integrasi Kelapa Sawit­Sapi. Pros. Lokakarya Nasional. Hal. 120‑128. Dept. Pertanian, Pemda Prov. Bengkulu dan P.T. Agricinal. Bengkulu.
Mustaffa‑Babjee, A., H. Hawari, and M.R. Rosli. 1984. PaImbeef.‑ A value added product of palm kernel cake. Proc. 8th Ann. Conf, MSAP. pp. 92‑93. Universiti Pertanian Malaysia, Selangor.

2 komentar:

  1. Cara fermentasi solid sawit gimana? Kok gak dijelaskan

    BalasHapus
  2. Aji Slot Casino & Hotel - Jtm Hub
    JTG is a 5-reel 광주광역 출장안마 and 5-row 경주 출장안마 live casino and 계룡 출장마사지 hotel located 세종특별자치 출장마사지 in Temecula, CA. Enjoy modern accommodations, delicious dining, 제주도 출장샵 shopping, relaxing spa,

    BalasHapus